Fakta Menarik Gunung Emas Indonesia Dikuasai Freeport Part 2

Berbicara sumber daya alam di Tanah Air memang tak ada habisnya. Termasuk di sektor pertambangan yang salah satunya yakni sumber daya emas.

Khusus emas, diketahui cadangan emas bahkan begitu besar dimana bisa untuk kebutuhan 268 tahun ke depan. Sungguh menakjubkan bukan sahabat Bonanza88.

Lantas, dari daerah mana saja yang menyimpan ‘harta karun’ emas di Indonesia ?

Berdasarkan penelusuran Bonanza88, ternyata Nusa Tenggara tercatat sebagai daerah yang memiliki sumber daya bijih emas terbesar di Indonesia, yakni mencapai 5 miliar ton.

Namun disayangkan, sumber daya bijih emas tersebut belum dieksplorasi dengan optimal oleh pemerintah dimana jumlah cadangan bijih emas cuma sebesar 506,9 juta ton.

Di posisi kedua ditempati oleh Papua. Meski Papua mempunyai sumber daya bijih emas lebih rendang ketimbang  Nusa Tenggara sebesar 3,20 miliar ton, namun di sisi cadangan bijih emas jauh lebih tinggi yakni 1,87 miliar ton.

Namun sangat disayangkan, eksplorasi sumber bijih emas di Papua malah ‘dikuasai’ oleh perusahaan tambang asing PT Freeport.

Nah, untuk membahas lebih lanjut fakta-fakta menarik PT Freeport yang menguasai harta karun emas di Indonesia berikut ulasannya.

  1. Puncak Eksplorasi Emas Terjadi pada 2001

Puncak eksplorasi cadangan tembaga serta emas terjadi pada tahun 2001. Bahkan, lebih dari Rp 140 triliun investasi sudah digelontorkan di pertambangan ini. 

Pasca Presiden Soekarno lengser, PT Freeport mulai mengeruk emas Papua. Sejak saat itu, Freeport seolah menjadi pembahasan yang kerap menguap di setiap peralihan pemerintahan. 

Banyak pihak berpendapat, siapapun presiden yang memimpin Indonesia, sepertinya tidak bakal berdaya dan bersikap tegas dalam menghadapi soal tambang terbesar yang sudah jelas berada di Indonesia.

  1. Tambang Grasberg Ditutup Tahun 2019

Pemerintah akhirnya menutup tambang terbuka Grasberg yang telah berakhir sejak 2019 silam. Langkah ini dilakukan untuk memelihara serta memonitor kestabilan lereng gunung tersebut. 

Namun begitu, meski tambang terbukanya telah ditutup, PT Freeport Indonesia masih memperoleh izin usaha pertambangan khusus (IUPK) hingga tahun 2041. Di mana, Freeport bakal meneruskan penambangan dengan berpindah ke area lokasi underground mine. 

Diketahui, tambang underground mine Freeport berada sekitar 1.700 meter di bawah lokasi permukaan dataran tinggi Grasberg yang memiliki tinggi 4.200 meter di atas permukaan laut mdpl

Dikatakan Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas, jika saat saat ini, tambang terbuka Grasberg telah memasuki fase transisi ke tambang underground mine dimana sudah dibangun sejak tahun 2015 silam.

  1. Grasberg Menyimpan Dampak Kerusakan Alam 

Berdasarkan hasil riset tahun 2003 dilaporkan bahwa sistem pembuangan limbah tambang Gasberg yang semrawut telah mengancam kondisi lingkungan sekitar kawasan tersebut. 

Dari data yang ditemukan, setidaknya Grasberg telah membuang sebanyak 25 ribu ton limbah per hari ke dalam aliran sungai. Artinya telah membuang dua kali lipat limbah ke lembah pegunungan. 

Selain itu, limbah tambang terbesar itu juga telah mencemari lebih dari angka 83 ribu hektar di lepas pantai serta lebih dari 35 ribu hektar di wilayah daratan. 

Namun, baru pada tahun 1994, Freeport mulai terbuka membuat sebuah manajemen limbah serta program daur ulang limbah tambang di sana.

Akan tetapi, masalah tidak terhenti sampai di sini. Pasalnya, kehidupan suku Amungme serta Komoro yang telah menetap di sekitar area tambang masih dalam ancaman.

Ini karena penduduk suku Amungme dan Komoro terus-menerus dirugikan, terpinggirkan hingga terabaikan. Kondisi tersebut berjalan selama beberapa generasi. Bahkan, aktivitas tambang sudah menghilangkan kebudayaan serta memecah belah suku-suku lokal sekitar.

  1. Indonesia Kuasai 51 Persen Saham

Sayangnya, meski sudah berasa puluhan tahun di Indonesia, namun saham yang dikuasi oleh perintah hanya sebesar 51 persen saham. Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. sendiri tercatat mempunyai  49 persen saham

Namun jumlah tersebut harus tetap diapresiasi atas kerja keras pihak Direktorat Jenderal Kekayaan Negara selaku unit eselon I di Kementerian Keuangan yang dalam tugasnya mengelola investasi pemerintah


Posted

in

by

Tags: